MENYELAMI SUKU BAJO LAMANGGAU, MANUSIA PENYELAM TANGGUH

Suku Bajo Lamanggau berada di Pulau Tolandona yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara. Perjalanan ke tempat ini bisa ditempuh menggunakan perahu pompom atau biasanya ada ojek perahu. Dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit dari pelabuhan Waiti’i.

Rumah masyarakat Bajo di sini ada yang masih di atas laut. Berupa rumah panggung papan dengan tiang penyangga yang menancap langsung ke dasar laut. Untuk menghubungkan antara satu rumah dengan rumah yang lain, masyarakat Bajo menggunakan jembatan kayu dengan luas tak seberapa. Jadi, jika kamu tak punya keahlian dan nyali cukup untuk meniti   jembatan sempit. Juga takut terjatuh ke laut, mesti berhati-hati jika melintasi jembatan ini. Lain halnya dengan masyarakat Bajo yang bahkan meniti jembatan sambil melakukan hal lain yang butuh konsentrasi sekalipun. Semisal menjunjung barang bawaan di kepala atau menggendong anak bahkan berlarian. Sebagian rumah warga Bajo sudah di pinggir laut dengan fondasi bebatuan yang disusun sedemikian rupa untuk menyanggah rumah. Bahkan ada juga yang benar-benar sudah di daratan dan berdinding semen.

Suara tawa terdengar riuh berbaur dengan kecipak air laut kala menyambangi Desa Lamanggau. Sekawanan anak kecil rupanya tengah asyik berlompatan dari atas jembatan dan berenang bersama. Saya berjalan mendekati sumber suara. Membidik tawa dan lompatan mereka, untuk diabadikan menggunakan kamera DSRL yang saya kalungkan ke leher.

Di kejauhan sana, dari atas sebuah perahu, tertangkap seorang bapak melompat ke dalam laut. Byurrrr…. Tubuh bapak itu masuk ke dalam laut. Satu menit… Dua menit… 5 menit… Saya terus menghitung dalam hati dengan perasaan takjub bercampur heran. Pada kemampuan sang bapak bertahan lama di dalam laut. Tanpa bantuan alat.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal cell menyebutkan bahwa keahlian menyelam suku Bajo adalah hasil mutasi gen. Yang merupakan hasil dari adaptasi tubuh suku ini, yang terus menyesuaikan dengan lingkungannya yakni di atas laut.

Penelitian yang dilakukan oleh Melisa Llardo dari center For Genetics, University Copenhagen. Menemukan bahwa ternyata limfa yang dimiliki oleh suku Bajo 50% lebih besar dari orang kebanyakan. Hal itu ia bandingkan dengan ukuran limfa suku Saluan yang tinggal di Indonesia.

Llardo menemukan bahwa gen bernama BDE10A terdapat pada suku Bajo, gen tersebut diduga berfungsi untuk mengontrol hormone tiroid. Keberadaan gen ini mempengaruhi ukuran limfa suku Bajo menjadi lebih besar dari pada manusia lain pada umumnya. Meskipun limpa bukanlah organ vital pada tubuh, dan bahkan manusia masih tetap bisa hidup walaupun tanpa limfa. Namun ukuran limfa yang lebih besar memberi pengaruh pada distribusi oksigen dalam darah. Yang membuat suku bajo dapat bertahan lebih lama dalam laut ketimbang manusia lain pada umumnya.

Selain itu, suku Bajo juga mengalami perubahan gen BDKRB2 yang dikaitkan dengan respons fisiologi tubuh saat menyelam. Gen ini bertanggung jawab dalam penurunan aliran darah di kaki dan lengan. Sehingga asupan oksigen akan lebih terpusat pada organ-organ yang lebih penting seperti otak, jantung dan paru-paru. Hingga membuat organ-organ penting bisa bekerja dan bertahan lama dalam kondisi oksigen yang terbatas.

Konon pembesaran limpa ini ditemukan juga pada keturunan suku bajo dikemudian hari. Bahkan pada mereka yang sudah meninggalkan kebiasaan menyelam. Itu artinya pembesaran limpa ini dapat menurun secara genetik, bukan hasil adaptasi terhadap lingkungan lagi. Pemelitian ini kemudian menjadi bukti evolusi tubuh manusia di zaman modern yang terus beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya.

17 bahkan 25 menit bukanlah waktu yang singkat bagi manusia lain. Namun suku Bajo dapat bertahan selama itu di dalam laut tanpa bantuan alat apapun.  Bahkan ini bisa dilakukan hingga kedalaman 70 meter dengan hanya berbekal kacamata renang. Yang dibuat sendiri secara manual dengan bingkai dari kayu lalu dipasangi kaca.

Tidak mengherankan jika tubuh suku Bajo kemudian mengalami evolusi demikian. Mengingat mereka adalah manusia-manusia yang hidup dan melangsungkan kehidupan di laut. Suku ini juga terkenal dengan sebutan sea gipsy yang hidup nomaden di atas laut. Namun kemudian menetap dan tersebar di beberapa Negara, termasuk Indonesia. Suku ini tersebar di beberapa pulau di Indonesia termasuk di Kepulauan Wakatobi. Salah satunya adalah di Pulau Tolandona ini, yakni di Desa Lamanggau yang kemudian dikenal dengan suku Bajo Lamanggau.

Menyambangi suku Bajo di sini. Kita juga kadangkala diizinkan untuk ikut berlayar menggunakan perahu bersamamasyararkat bajo, lalu menyaksikan kegiatan mereka secara langsung. Dan beruntung sekali saya bisa menyaksikan langsung kemampuan menyelam para penyelam tangguh ini. Kemampuan menyelam dan bertahan lama di dalam air ini dibentuk oleh kebiasaan suku Bajo yang kesehariannya identik dengan laut. Seperti menyelam ke dalam laut untuk mencari gurita, ikan, dan kepiting dan lain-lain. Aktivitas menyelam ini bahkan menyita nyaris 60% waktu mereka dalam sehari. Jika ingin menyaksikan langsung manusia penyelam tangguh, yang menangkap ikan menggunakan tombak di dalam laut seolah hendak berburu di daratan. Sambangilah suku Bajo, utamanya suku Bajo Lamanggau dengan berbagai macam keunikan dan kearifan lokal yang masih terjaga dalam hidup keseharian mereka.

Karena suku Bajo menggantungkan hidup dengan laut. Maka bagi suku Bajo, laut sudah seperti “biang” sesuatu yang menjadi muasal dan yang memberi kehidupan. Hal ini tercermin dari perlakuan suku Bajo terhadap laut yang sangat arif. Bisa dilihat dari beberapa pantangan tertentu yang tidak boleh dilakukan terhadap laut dan seisinya. Juga kepercayaan pada arwah leluhur yang bersemayam di laut. Seperti misalnya mitos yang beredar di suku ini bahwa ada larangan memakan penyu. Dan kepercayaan pada arwah leluhur yang mendiami gugusan karang tertentu.

Bagi kalian yang ingin berkunjung ke tempat ini. Sebaiknya mengambil waktu perjalanan antara April hingga Juni atau Oktober hingga Desember. Pada waktu-waktu ini bertepatan dengan  musim teduh. Hingga bisa membuat perjalanan kamu nyaman dan aman melihat kondisi Kabupaten Wakatobi sebagai kepulauan hingga transportasi laut merupakan sarana yang menjadi penghubung. Selain itu, kalian juga bisa lebh puas menikmati keindahan alamnya dengan kegiatan snorkling atau diving atau sekedar ingi ikut menumpang perahu suku Bajo. Lalu ikut melaut dan menyaksikan aktivitas mereka secara langsung di laut. Dengan bonus bisa menyaksikan langsung keajaiban suku Bajo mampu bertahan lama dalam laut tanpa bantuan alat itu.

Perjalanan menuju Kabupaten Wakatobi  bisa ditempuh melalui jalur transportasi udara. Dengan pintu masuk di Pulau Wanci sebagai Ibu kota Kabupaten Wakotobi. Lalu mengambil jalur transportasi laut menggunakan kapal kayu atau speed boat menuju Pulau Tomia sebelum akhirnya ke Pulau Tolandona ini. Dan ada juga jika ingin langsung mendarat di pulau Tomia, namun rutenya hanya melayani penerbangan asal atau tujuan Bali-Tomia. Sedangkan jika memilih jalur perjalanan Laut, kalian bisa langsung mengambil kapal Tujuan Pulau Tomia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat dengan kami melalui WhatsApp